30 October 2013

Just So Stories (Rudyard Kipling) : Kisah Asal-Usul Kerongkongan Paus

Posted by Yuni "Dee" at Wednesday, October 30, 2013
Di kedalaman laut biru, dahulu kala, O sahabatku sayang, ada seekor Paus, dan dia memakan ikan-ikan. Dia makan bintang laut dan kuda laut, kepiting dan penyu belimbing, cumi dan ikan pari, ketam dan penyu tempayan, ikan pedang dan udang, ikan makerel dan pikerel, dan belut panjang yang amat sangat membeliat-beliut. Semua jenis ikan yang bisa ia temukan di laut dia makan dengan mulutnya – hap! Sampai akhirnya hanya tertinggal seekor ikan kecil di seluruh laut, dan dia ikan kecil yang cerdik, dan dia berenang sedikit di belakang telinga Paus, untuk menghindar dari bahaya.

Lalu Paus menegakkan diri dengan ekornya dan berkata, “Aku lapar.” Dan si ikan kecil yang cerdik berkata dengan suara lirih lembut. “Wahai Makhluk Mamalia Laut yang agung dan baik hati, sudahkah engkau pernah mencicipi Manusia?”

“Belum pernah,” jawab Paus. “Seperti apa rasanya?”

“Enak,” jawab Ikan Kecil yang cerdik. “Enak tapi kenyal.”

“Kalau begitu bawakan beberapa untukku,” kata Paus, dan dia menggoyang air laut sampai berbuih dengan ekornya.

“Satu saja cukup tiap kali makan,” sahut si Ikan Cerdik. “Kalau engkau berenang ke arah koordinat 50 derajat Lintang Utara dan 40 derajat Bujur Barat, engkau akan mendapati seorang Pelaut yang mengalami kapal karam, sedang duduk di atas rakit, di tengah lautan, tak punya apa-apa selain celana kanvas biru, sepasang tali selempang (jangan lupakan tali selempang ini, Sahabat Tersayang), dan sebilah pisau lipat, dan aku harus memberitahumu dia adalah seorang kuat dan berani tiada tara.”

Maka si Paus berenang dan berenang ke 50 derajat Lintang Utara dan 40 derajat Bujur Barat secepat mungkin, dan di atas rakit, di tengah lautan, tidak mengenakan apa-apa selain celana kanvas biru, sepasang tali selempang (engkau harus betul-betul ingat tentang tali selempang ini, Sahabat Tersayang) dan sebilah pisau lipat, ditemukannya sendirian seorang Pelaut yang mengalami kapal karam, mencelupkan jari-jari kakinya ke dalam air. (Dia sudah mendapat ijin dari Mamanya untuk berlayar, kalau tidak tentu ia tidak akan pernah melakukannya, karena ia seorang yang kuat dan berani tiada tara.)


Maka Paus mengangakan mulutnya lebar, tambah lebar, dan tambah lebar sampai mulutnya hampir menyentuh ekornya, dan ia menelan si Pelaut karam, dan rakit yang ia duduki, dan celana kanvas birunya, dan tali selempangnya (yang engkau tidak boleh lupakan), dan pisau lipatnya – Dia menelannya semua masuk ke dalam rongga yang hangat dan gelap di dalam perutnya, lalu ia mencecapkan bibirnya – begitu, dan berputar tiga kali di atas ekornya.

Namun begitu si Pelaut, seorang yang kuat dan berani tiada tara, mendapati dirinya betul-betul sudah ada di dalam perut Paus yang hangat dan gelap, dia meloncat dan melompat, melangkah dan menjangkah, menabrak dan menghentak, menari dan menggali, membentur dan mencukur, memukul dan memacul, merangkak dan berteriak, menggigit dan mencapit, mendorong dan melolong, merayap dan menguap, menjerit dan bertuwit-tuwit, dan dia berdansa ketuk kaki di tempat yang tak semestinya, dan Paus merasa sangat tidak bahagia. (Sudah lupakah engkau pada tali-tali selempang itu?)

Maka berkatalah dia kepada Ikan Cerdik, “Manusia ini sangat kenyal, lagipula ia membuatku cegukan. Apa yang harus kulakukan?”
“Beritahu padanya supaya keluar,” jawab Ikan Cerdik.

Maka Paus berseru ke dalam kerongkongannya sendiri kepada si Pelaut karam, “Keluarlah dan bersikaplah sopan. Aku jadi cegukan.”

“Tidak, tidak!” sahut Pelaut. “Tidak semudah itu. Bawa aku ke pantai kelahiranku dan bukit-bukit putih Albion, dan akan kupikirkan permintaanmu.” Dan dia mulai menari lagi lebih keras dari sebelumnya.

“Lebih baik engkau memulangkannya,” saran Ikan Cerdik pada Paus. “Aku sudah mengamarkanmu bahwa dia seorang yang kuat dan berani tiada tara.”

Maka Paus berenang dan berenang dan berenang, dengan kedua sirip dan ekornya, secepat yang ia mampu karena ia masih cegukan; dan akhirnya ia melihat pantai kelahiran Pelaut dan bukit-bukit putih Albion, dan bergegas mendekati pantai itu, dan membuka mulutnya lebar dan lebar dan lebar, dan berkata, “Yang mau terus ke Winchester, Ashuelot, Nashua, Keene, dan stasiun-stasiun di Jalan Fitchburg;” dan begitu dia mengucapkan 'Fitch' si Pelaut melangkah keluar dari mulutnya. Namun sementara Paus sedang berenang, si Pelaut, yang memang seorang kuat dan berani tiada tara, telah menghunus pisau lipatnya dan membelah rakit menjadi jaring bilah-bilah persegi serba silang-menyilang dan dia telah mengikatnya kuat-kuat dengan tali selempangnya (sekarang, engkau tahu mengapa engkau jangan melupakan tali selempang itu!), dan dia menyeret jaring bilah-bilah itu ke dalam kerongkongan Paus sampai tersangkut pas dan erat di sana! Lalu ia membacakan Sloka berikut, sebab engkau belum pernah mendengarnya, aku kini akan mulai mengatakannya:

Dengan memasang pagar
Besar makananmu kini tertakar

Sebab si Pelaut juga seorang Ir-lan-di-a. Dan dia melangkah ke atas sebilah papan, dan pulang menjumpai mamanya, yang telah memberinya ijin bermain-main air; dan dia menikah dan hidup bahagia selama-lamanya. Si Paus juga hidup bahagia. Namun mulai hari itu, jaring kayu di kerongkongannya, yang tidak bisa ia batukkan keluar maupun telan, menghalanginya memakan apa pun kecuali ikan yang sangat, sangat kecil; dan itulah alasan mengapa paus-paus hari ini tidak pernah memangsa manusia, yang dewasa maupun anak-anak

Si Ikan Cerdik kabur dan bersembunyi dalam lumpur di perairan dalam Khatulistiwa. Dia takut siapa tahu Paus murka padanya.

Si Pelaut membawa pulang pisau lipatnya. Dia masih mengenakan celana kanvas biru saat melangkah ke atas bilah papan. Tali selempangnya ditinggal, kamu tahu, untuk mengikat jaring kayu itu; dan berakhirlah kisah itu.

TATKALA jendela-jendela kabin gelap dan kehijauan
Karena di luar sana hanya ada lautan;
Tatkala kapal terangkat hup! (dan bergoyang-goyang)
Dan sang kelasi terjatuh masuk ke dalam pinggan
Peti-peti pun jatuh menggelempang;
Tatkala si Pengasuh berbaring di lantai, di atas tumpukan barang,
dan “biarkan dia tidur sebentar,” Mama bilang,
Sedang kau belum duduk tegak, mandi atau berganti pakaian,
Wah, sekarang kau tahu (kalau kau belum sempat menduga-duga)
Rasanya berada di 40 derajat Bujur Barat
dan 50 derajat Lintang Utara!

(Diambil dari Just So Stories karangan Rudyard Kipling. Diterjemahkan oleh Ellen Kristi sebagai materi bacaan Kelas 1 Minggu #1 Ambleside Online. Silahkan klik menu E-books untuk memantau kelanjutan dari proyek terjemahan living books rekomendasi AO ini.)

Sumber : Pustaka Charlotte Mason Indonesia

0 comments:

Post a Comment

Kalau ada pertanyaan, usul/saran, atau komentar yang terkait dengan postingan-postingan saya, silakan tinggalkan pesan Anda disini.

 

Never Stop Learning Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by New Baby Shop