Pages - Menu

17 November 2020

Mekanisme Menjaga Hafalan Al-Quran

Mekanisme menjaga hafalan Al-Quran dari lupa, karena sudah umum diketahui oleh para penghafal Al-Quran bahwa menghafal lebih mudah dari menjaga hafalan itu sendiri.

📍Pertama, Mengulang-ulang Dan Mengaji Secara Teratur, Rasulullah selalu mengingatkan para penghafal Al-Quran, seperti dalam sabda beliau dalam hadits Ibnu Umar: “Sesungguhnya permisalan ahlu quran adalah sebagaimana tukang pemelihara unta, yang selalu mengikat untanya, jika ia tetap menginginkan unta itu, ia akan memegangnya, akan tetapi jika ia membebaskan unta itu, nicaya ia akan pergi dari pengembalaannya”. (HR Bukhari Muslim dari Abu Musa Al-Asyari) 

Ibnu Hajar berkata: Keledai disebut secara khusus karena ia merupakan binatang yang paling kencang larinya, dan mengejarnya setelah lari kencang tidak mudah. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa dalam hadits-hadits ini ada satu pesan agar kita memelihara (mengingat) Al-Quran dengan terus mempelajarinya dan mengulang-ulang membacanya. 

Oleh karena itu, selayaknya waktu mempelajari dan mengulanginya dibagi dengan apik, baik malam maupun siang hari. Rasulullah bersabda: “Apabila Ahlu Quran bangun di malam maupun siang hari dengan membacanya niscaya ia akan mengingatnya. Tetapi jika tidak dibacanya niscaya ia akan melupakannya”. 

Di dunia wanita, aspek lupa lebih banyak menyentuh pada Al-Quran sebab mereka selalu meninggalkan shalat saat mereka haidh dan dilarang menyentuh Al-Quran serta membacanya dalam masa- masa itu. Para ulama menegaskan bahwa wanita dalam keadaan junub dan haidh boleh membaca Al-Quran dan mengulanginya dalam hati. 

Dalam kondisi seperti ini, penulis berpendapat bahwa penggunaan sarana-sarana audio visual tak dapat dielakkan. Seperti Mp3 player atau lab komputer di pesantren yang membuat penghafal Al-Quran bisa membacanya setiap siang maupun malam hari baik ketika shalat atau di luar shalat. 

Sarana seperti Mp3 yang sekarang sudah semakin murah dan bermacam-macam sempat saya wajibkan kepada para santri untuk memilikinya, dengan dukungan motivasi imani dan taufik dari Allah, akan semakin mempermudah jalan menghafal Al-Quran. 

📍Kedua, Membiasakan Hafalan. Terkadang lupa yg mencapai puncak akan sulit untuk diulangi menghafalnya, karena itu harus ada pembiasaan mengulangi menghafal dan membiasakan hal-hal yang telah dilupakan tersebut. 

Ilmu pendidikan modern pun menemukan bahwa materi yang dilupakan setelah dihafal, memerlukan waktu yg relatif lebih singkat dibanding dengan waktu yang diperlukan untuk menghafal materi yang sama sekali belum pernah dipelajari sebelumnya. 

Dan kalau dikaitkan langsung dengan Al-Quran, pernyataan di atas akan sangat terbukti kebenarannya, karena Al-Quran punya pengaruh psikologis dan firman balaghi yang sangat mendalam dalam hati sanubari, indah strukturnya, mengandung I’jaz atau mukjizat bahwa ia merupakan Kalam Allah.

📍Ketiga; Mendengarkan Bacaan Orang Lain.  Mendengar merupakan media penyemangat yang paling sugestif. Seseorang yg cerdas dan pintar pun tidak luput dari kelemahan. Dengan kata lain, suatu saat ia pasti tersentuh lupa. 

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah seperti dalam hadits, mendengar seorang qari’ membaca pada malam hari dalam masjid, maka beliau bersabda: 

“Semoga Allah memberinya rahmat! Sungguh ia telah mengingatkanku tentang ayat ini yang aku terputus dalam menghafalnya dari suatu surat”.(HR.Bukhari ) 

Suatu hari Rasulullah bersabda kepada Ibnu Mas’ud: “Bacalah (Al-Quran) padaku. Ibnu Mas’ud bertanya bagaimana saya membacakan (Al-Quran) kepada anda padahal Al-Quran diturunkan kepadamu  wahai Rasul!! Rasulullah menjawab: ‘Sungguh saya rindu untuk mendengarkan dari orang lain’. Ibnu Mas’ud (selanjutnya) mengatakan, ‘maka saya bacakan surat An-Nisa’ sampai pada “Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)’. Sampai di sini, maka saya melihat air mata beliau meleleh”. 

📍Keempat, Meneliti Dan Merenungi Maknanya. Hal ini merupakan tujuan dari diturunkannya AlQuran sebagaimana firman Allah ta'ala: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran”. (QS An-Nisa: 82) 

Aisyah Ummul Mukminin ketika ditanya perihal apa yang sangat mengherankan dari kondisi beliau, maka ia sambil menangis menjawab: Setiap keadaannya sangat menakjubkan. Suatu malam ia mendatangiku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulit beliau, kemudian beliau berkata: ‘Tingglkanlah aku seorang diri agar aku dapat menyembah Allah ta’ala'. 

Kemudian Aisyah menyambung ceritanya dan berkata: Demi Allah saya mencintai dekat dengan engkau wahai kekasih Allah,  tetapi saya pun mencintai engkau tetap beribadah kepada Allah’. Kemudian beliau berdiri menuju tempat wudhu untuk mengambil wudhu, tetapi tidak boros  menggunakan air. Kemudian dia melaksanakan shalat, sehingga bercucurlah air mata beliau membasahi janggutnya, dan ketika bersujud basahlah tanah tempat sujudnya, kemudian dia terletang (miring ke kanan) tetap dalam keadaan menangis sampai Bilal datang untuk melaksanakan adzan Subuh. 

Bilal bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang telah menyebabkan engkau menangis sedangkan Allah telah mengampuni dosa engkau baik terdahulu maupun yang akan datang”. Wahai Bilal bagaiama aku tidak menangis sedangkan Allah telah menurunkan kepadaku malam ini sebuah ayat: 

Kemudian beliau bersabda: “Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak memikirkannya”. Seorang mukmin yang membaca ayat-ayat Allah, mempercayai janji dan ancamannya, berita, perintah dan larangannya, niscaya ia tidak akan dapat melupakan yang hak setelah kebenaran itu menyentuh simpul kecintaan kalbunya, ia akan tetap konsekuen yakni tetap membacanya, menghafalnya, memikirkannya, dan meresapinya baik dalam keadaan menyendiri ataupun sedang berada di tengah-tengah orang banyak. 

📍Kelima, Menjauhi Maksiat Dan Dosa. Banyak atsar yang menyebutkan tentang anjuran-anjuran untuk meninggalkan maksiat karena bisa membuat lupa, di antara atsar tersebut adalah sebagai berikut: 

Dari Muhammad Al-Baghawi dari Abu Khutsaimah dari Yazid bin Harun dari Al-Mas’udi dari Al-Qasim bin Abdurrahman berkata, berkata Abdullah: 

“Tidaklah seseorang itu melupakan ilmu yang telah dia ajarkan melainkan karena dosa yang telah dia kerjakan”. 

Sufyan bin Uyainah pernah ditanya; apakah seorang hamba akan dicabut ilmunya lantaran dosa-dosa yang telah dia kerjakan? Bukankah engkau sudah mendengar firman Allah, yaitu Kitabullah yang menjadi ilmu paling agung, yang dikhususkan bagi mereka dan menjadi hujjah mereka kelak. 

Ali bin Khusrum berkata, Aku berkata pada Waki’ bin Jarrah, aku ini orang kampung yang tidak punya hafalan, maka ajarkanlah aku resep menghafal, lantas Waki’ menjawab; “Wahai anakku, demi Allah tidak ada obat yang mujarab selain dengan meninggalkan maksiat”. 

📍Keenam, Berbekam. Dari Abu Khithab Ziyad bin Yahya dari Ghazal bin Muhammad dari Muhammad bin Jahdah dari Nafi’ berkata, telah berkata kepadaku Abdullah bin Umar bahwa ia mendengar Rasulullah mengatakan bahwa berbekam itu menambah kekuatan hafalan para penghafal dan kecerdasan orang yang berakal.

Hanya kepada Allahlah kita bertawakal dan kepada-Nya pula kita kembali. 

Semoga sedikit ulasan ini bermanfaat

اللهم نور قلوبنا بتلاوة القران، و زين اخلاقنا، و حسن اعمالنا بذكر القران

Aamiin...

Jika Penghafal al-Quran Tidak Murajaah

Al-Qur’an adalah kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia adalah perkataan yang paling utama dan sarat dengan hukum-hukum, membacanya merupakan ibadah yang meluluhkan hati, membuat jiwa menjadi khusyu dan memberi manfaat lain yang tidak terhitung. 

Oleh karena itu, nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar selalu menjaganya supaya tidak lupa, sebagaimana sabda baginda Nabi Saw : “Jagalah (hafalan) Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwa saya ada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya Al-Qur’an itu sangat cepat terlepas melebihi (lepasnya) Unta dari ikatannya” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Tidak selayaknya seorang hafizh atau hafizah lalai dan lupa dari membacanya sehingga tidak maksimal dalam menjaganya. Seyogyanya dia mempunyai wirid (muraja’ah) harian agar dapat menghindari dari lupa sambil mengharap pahala dan mengambil pelajaran hukum- hukumnya, baik yang berupa aqidah maupun amalan. 

Kemudian kelanjutannya menurut pendapat para ulama (sesuai dari mana seseorang itu bermazhabnya), tersebut dalam kitab Hasyiyah as-Shoowy III/68 : “Maka kalangan madzhab Malik ra hukum menjaga hafalan yang lebih dari bacaan yang membuat shalat sah (hafalan selain surat fatihah) hukumnya sunah muakkad baik diawal atau selamanya, melalaikannya hukumnya makruh. 

Sedangkan madzhab Syafi’i melalaikan satu huruf dari hafalan diatas tergolong dosa besar yang hanya dapat terlebur dengan bertaubat dan kembali menghafalnya”. 

Tulisan ini bukan hendak menakutkan dan menjauhkan umat Islam dari kitab sucinya untuk menghafalkan ayat demi ayat dan surat demi surat tapi tulisan ini adalah sebagai pengingat kepada semua bahwa sesuatu itu ada resiko jika tidak dijaga / dilakukan dengan baik. 

Dan dalam tulisan ini juga mengingatkan, bila ulama telah mengajarkan dan memutuskan agar umat selalu konsen dan mematuhi sesuatu hukum maka ikuti dan dengarlah nasehatnya, jangan sekali-kali membuat se-mau akal pikiran diri kita. 

Al-Qur'an itu suci dan hanya mau melekat di hati orang-orang yang suci (selalu berusaha menjaga kesucian diri dari dosa dan kesalahan). Al-Qur’an itu sensitif dan sangat cemburu ketika ia tak lagi jadi prioritas dan tidak dijaga dengan baik. Hafalan yang benar-benar lancar tanpa cacat akan sangat terasa nikmatnya ketika kegiatan muraja’ah atau mengulang hafalan. 

Lalu bagaimana seandainya yang terlupa tidak hanya satu atau dua ayat, tapi satu atau dua juz bahkan lebih? Seakan-akan hafalan tersebut hilang visualisasinya dalam memori saat lisan tak lagi bisa melantunkannya secara refleks. 

Maka cukuplah itu sebagai tanda bahwa ada yang salah dengan perilaku kita, ada yang salah dari manajemen waktu dan kesibukan, ada malam yang mungkin sering terlewatkan dari kegiatan menjaga AlQur’an, ada hati yang sering terlenakan, ada frekuensi muraja’ah dan tilawah yang tak berimbang, dan mungkin ada dosa dan kesalahan yang dilakukan.

Mari evaluasi diri dan segera lakukan perbaikan bagaimanapun caranya agar Allah mengembalikan lagi kepercayaan- Nya pada diri kita. Karena menghafal adalah sebuah proses perjuangan, ia tidak mungkin bisa diperjuangkan dengan ala kadarnya. 

Kenapa berjuang itu manis? Karena ada niat yang harus senantiasa diluruskan dan diperbarui, ada pengorbanan yang harus terus dilakukan, juga ada cinta yang selalu meminta untuk dibuktikan.

Ya Allah jika nanti telah habis masa umur kami di dunia ini, ingin rasanya diri ini engkau panggil dalam kondisi husnul khatimah, dengan simpanan ayat-ayat 

Al-Qur’an yang sempurna, teramalkan, lagi terjaga dengan baik. 

Amin ya Rabbal alamin. 

Wallahu a’lam, semoga bermanfaat

اللهم نور قلوبنا بتلاوة القران، و زين اخلاقنا، و حسن اعمالنا بذكر القران

Aamiin