11 December 2020

Mempelajari Amalan Hati – Part 3

By Yuni Koerniawati at December 11, 2020 0 comments
 Kelas Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Ustadz Dr Firanda Andirja
Sumber Transkrip: www.ngaji.id
--------------------------------------------

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

3. Kebahagiaan tempatnya di hati

Perkara ketiga yang menunjukkan akan urgensinya kita mempelajari amalan hati, karena ternyata kita tahu kebahagiaan tempatnya di hati. Kalau dalam hati kita ternyata dipenuhi dengan penyakit-penyakit hati, ini menjadikan kebahagiaan kita semakin berkurang. Akan tetapi kalau semakin bersih hati kita, maka kita semakin bahagia.

Lihatlah orang kalau terkena penyakit hati, bagaimana dia mau bahagia? Misalnya dia memiliki sifat tamak, dalam hatinya tamak, pingin ini pingin anu, kapan dia bahagia? Lain halnya kalau seorang qana’ah, dia menerima, ridha dengan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia mudah meraih kebahagiaan.

Kita dapati sebagian orang hidupnya sederhana. Mungkin kita bicara sekarang lagi senang gowes atau naik sepeda. Sepeda sederhana sudah bahagia. Ada orang tidak bahagia (bahkan ketika) sudah punya sepeda bagus, dia ingin yang lebih bagus, ingin yang lebih bagus, tidak ada kebahagiaan. Kenapa? Karena masalah hatinya. Kapan hati kita terkena penyakit hati tamak, maka susah bagi kita untuk bahagia.

Contoh jika hati kita terkena penyakit hasad. Kita sudah diberikan pemberian oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi setiap kita memandang orang yang memilih harta lebih banyak daripada kita, yang lebih kaya daripada kita, yang lebih terkenal daripada kita, yang lebih ini daripada kita, yang lebih anu daripada kita, maka kita tidak akan pernah bahagia, tidak akan pernah bahagia.

Oleh karenanya jika orang ingin bahagia, dia harus bersihkan hatinya. Contoh, orang kalau ikhlas, dia semakin bahagia. Kenapa? Karena yang dia pedulikan hanyalah bagaimana komentar Allah terhadap amal dia, yang penting Allah sudah lihat sudah selesai. Tapi bayangkan orang yang tidak ikhlas. Kebahagiaannya dia gantungkan dengan like, dengan viewers, dengan subscriber misalnya, atau dengan komentar netizen yang dia tunggu-tunggu. Sehingga akhirnya dia tidak bahagia.

Demikian juga kalau seorang misalnya dia punya penyakit hati dendam atau susah memaafkan. Bagaimana dia bahagia? Dia punya masalah sama 10 orang, dia dendam kepada si A, nomer satu, kedua, ketiga, sampai sepuluh. Mau tidur dia ingat-ingat lagi masalahnya sehingga dia menjadi hidup susah, kemudian dia tersiksa dalam batinnya, tersiksa di rumah tangganya karena dia tidak bisa menghilangkan penderitaannya tersebut. Sehingga terkadang penderitaannya tersebut berdampak pada suaminya, pada istrinya, pada anak-anaknya.

Oleh karenanya orang kalau ingin bahagia, bersihkan hatinya. Karena kita tahu tempat kebahagiaan adalah di hati.

4. Banyak orang tidak sadar tatkala mereka ditimpa dengan penyakit hati

Perkara yang keempat yang menunjukkan akan urgensinya kita belajar tentang amalan hati dan mengenal tentang penyakit-penyakit hati, yaitu banyak orang tidak sadar tatkala mereka ditimpa dengan penyakit hati. Lain halnya ketika mereka ditimpa dengan penyakit badan, kita rata-rata mengerti dan ngeh ketika kita terkena penyakit badan. Ada sinyal yang menunjukkan ketika sedang sakit. Tapi betapa banyak orang terkena penyakit hati tidak sadar. Dia terkena penyakit sombong tapi dia merasa tidak sombong, dia terkena penyakit riya’ tapi dia merasa tidak riya’, dia terkena penyakit hasad tapi dia merasa dia tidak hasad, dia terkena penyakit pemarah tapi dia merasa dia orang yang bijak.

Subhanallah.. Banyak orang terkena penyakit hati tapi dia tidak sadar. Ketika seseorang terkena penyakit hati dan dia tidak sadar, bagaimana dia berusaha untuk memperbaiki hatinya? Sementara dia tidak merasa berpenyakit.

Maka dengan kita mempelajari tentang amalan-amalan hati dan lawan-lawannya, yaitu penyakit-penyakit hati, kita akan bisa mendeteksi sedini mungkin penyakit yang sedang menimpa hati kita. Kalau kita sudah mendeteksi penyakit-penyakit hati kita, maka kita mudah untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut.

Sebagaimana penyakit badan kalau dibiarkan akan bertumpuk-tumpuk, semakin meradang dan semakin parah kalau tidak segera diobati, maka demikian juga penyakit hati. Penyakit hati kalau dibiarkan akan bertumpuk. Hasad semakin hasad, riya’ semakin riya’, dendam semakin dendam, su’udzan semakin su’udzan, kalau kita tidak segera selamatkan jiwa dan hati kita, maka kita akan semakin parah dan ini berbahaya bagi seseorang.

5. Amalan hati adalah amalan yang agung

Kemudian perkara yang berikutnya yang berkaitan tentang urgensinya kita belajar tentang amalan hati, karena ternyata amalan hati adalah amalan-amalan yang agung. Para ulama mengatakan amalan hati lebih afdhal daripada amalan jawarih.

Terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwasanya amalan hati penyebab utama seorang masuk surga. Bukankah amalan hati itu adalah amalan-amalan yang agung? Iman, yakin, ridha, khusyu’, sabar, Subhanallah terlalu banyak dalil yang menunjukkan akan keistimewaan amalan-amalan ini. Berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ini amalan-amalan hati yang pahalanya sangat luar biasa bahkan lebih afdhal daripada amalan-amalan jawarih.

Karenanya datang dalam satu hadits tentang bagaimana seorang yang tidak hasad kemudian Nabi mengatakan dia penghuni surga. Satu hari Rasulullah dan para sahabat sedang berkumpul dan tiba-tiba ada seorang akan lewat. Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَطْلُعُ عَلَيْكُمْ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Akan lewat sekarang/muncul seorang penghuni surga.”

Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar keluar, dia gantung sendalnya, kemudian masih ada tetesan air wudhunya, kemudian dia berjalan. Subhanallah, kata Nabi ini penghuni surga.

Kemudian besok harinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan perkataan yang sama dan ternyata keluar lagi orang yang sama. Kemudian hari berikutnya Rasulullah mengatakan lagi: “Akan keluar sekarang seorang yang termasuk dari penghuni surga.” Ternyata orang itu juga pula.

Akhirnya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash penasaran dengan ini siapa atau apa amalan dia sehingga menjadikan dia “divonis” oleh Nabi tiga kali berturut-turut bahwasanya dia penghuni surga.

Akhirnya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mencari alasan untuk bisa tidur di rumah orang tersebut. Ternyata ketika dia tidur di rumah orang tersebut, dia tidak mendapati orang ini melakukan amalan-amalan yang luar biasa. Dia heran, sampai akhirnya setelah tiga hari dia berkata: “Wahai Fulan, sesungguhnya saya ke sini cuma ingin tahu amalanmu itu apa? Karena saya mendengar Rasulullah menyebutkan engkau tiga kali sebagai penghuni surga.”

Kemudian dia berkata: “Tidak ada yang aku lakukan kecuali yang engkau lihat.” Artinya tidak ada yang aneh. Tidak disebutkan dia shalat malam dari jam sekian dari jam sekian, tidak disebutkan dia baca Qur’an dari jam sekian sampai jam sekian, tidak disebutkan bahwa dia bersedekah dari sana ke sini. Makanya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘Anhu heran. Akhirnya dia bertanya apa yang dilakukan orang tersebut. Orang itu menjawab: “Tidak ada amalan kekcuali apa yang engkau lihat.”

Akhirnya tatkala ‘Abullah bin ‘Amr bin ‘Ash hendak pergi, dia memanggil dan berkata: “Amalanku cuma yang engkau lihat, hanya saja aku tidak pernah hasad kepada nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”

Subhanallah, ternyata ini amalan yang luar biasa. Yaitu tidak pernah hasad sama sekali yang membuat dia dimasukkan ke surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kata ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash:

هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang kami tidak mampu untuk memilikinya.” (HR. Ahmad)

Oleh karenanya seseorang berusaha berjuang untuk memiliki amalan-amalan hati karena amalan hati pahalanya besar dan sebab memasukkan seseorang ke dalam surga dengan mudah. Sementara kita dapati banyak orang yang perhatian dengan amalan jawarih tapi lupa dengan amalan hati.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Mempelajari Amalan Hati - Part 2

By Yuni Koerniawati at December 11, 2020 0 comments
 Kelas Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Ustadz Dr Firanda Andirja
Sumber Transkrip: www.ngaji.id
--------------------------------------------

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

2. Pahala yang Allah berikan bertingkat-tingkat

Perkara kedua yang menunjukkan urgensinya kita mempelajari tentang amalan hati, yaitu bahwasanya pahala yang Allah berikan bertingkat-tingkat. Dan tingkatan-tingkatan pahala pada satu amal yang sama bisa berbeda-beda, kembali pada perbedaan amalan hati.

Oleh karenanya Bakr Al-Muzani Rahimahullah pernah berkata:

ما سبقهم أبو بكر بكثرة صيام، ولا صلاة، ولكن بشيء وقر في صدره

“Tidaklah Abu Bakar mengungguli para sahabat yang lain dengan banyaknya puasa dan juga bukan dengan banyaknya shalat, tetapi dengan sesuatu yang terpatri dalam dadanya (yaitu suatu amalan hati).”

Sebagian ulama mengatakan:

الذي وقر في صدره هو حب الله

“Yang terpatri dalam dadanya adalah dia mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Demikian juga Fatimah bintu Abdul Malik, yaitu istrinya ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Rahimahullahu Ta’ala. Ketika ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz telah meninggal dunia, dia ditanya tentang amalan suaminya. Maka apa jawaban istrinya?

والله ما كان بأكثر الناس صلاة، ولا بأكثرهم صيامًا

“Demi Allah, suamiku (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) bukanlah orang yang paling banyak shalatnya, bukan juga yang paling banyak puasanya.”

ولكن -والله- ما رأيت أحدًا أخوف لله من عمر

“Tetapi -demi Allah- aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.”

Ini menunjukkan bahwasanya amalan hati punya pengaruh, menjadikan pahala ganjaran menjadi besar.

Dalil Pentingnya Amalan Hati

1. Tingkatan pahala shalat

Di antaranya ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara tentang pahala shalat. Kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Tidaklah seseorang selesai dari shalat kecuali tidak seluruh amalan shalat dia dapatkan 100%, tetapi dia mendapatkan catatan pahalanya cuma sepersepuluh shalatnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, atau sepertujuhnya, atau seperenamnya, atau seperlimanya, atau seperempatnya, atau sepertiganya, atau setengah pahala shalatnya.” (HR. Abu Dawud)

Kata para ulama kenapa demikian? Karena perbedaan pahala shalat ini kembali kepada kekhyusu’an. Semakin seorang khusyu’ dalam shalatnya, maka semakin tinggi pahalanya.

Ini dalil bahwasannya tingkatan pahala tergantung dengan amalan hatinya. Dan kita tahu khusyu’ adalah salah satu bentuk amalan hati.

2. Hadits bithaqah

Kemudian juga dalam hadits yang masyhur, disebut hadits bithaqah. Yaitu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dipanggillah seorang dari umatku pada hari kiamat.”

فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ

“Kemudian dibentangkan baginya 99 catatan kemaksiatan.”

كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ

“Setiap catatan sejauh mata memandang,” isinya maksiat terus.

Maka dia menyangkan dia akan binasa. Kemudian kata Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami.” Maka dikeluarkan satu kartau tertulis Laa Ilaaha Illallah. Maka dia berkata:

مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ

“Yaa Allah, apa pengaruhnya kartu ini dibandingkan dengan 99 catatan amal maksiat yang setiap catatan gulungan dibentangkan maka sejauh mata memandang dibandingkan kartu kecil Laa Ilaaha Illallah?”

Maka dikatakan kepadanya:

إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ

“Engkau tidak akan didzalimi (pada hari ini).”

Ketika ditimbang, ternyata kartu Laa Ilaaha Illallah lebih berat daripada catatan maksiat tersebut. Dan ini luar biasa. Dan kita tahu setiap roang Islam punya kartu ini, setiap kita punya bitaqhah. Tetapi kualitasnya berbeda-beda. Semakin seorang kuat, semakin tinggi tawakalnya, semakin tinggi keikhlasannya, maka akan semakin berat kartu Laa Ilaaha Illallah-nya kalau ditimbang pada hari kiamat kelak.

Ini dalil bahwasanya ganjaran berbanding lurus dengan kuatnya amal hati seseorang.

3. Kisah pezina memberi minum anjing

Demikian juga kisah tentang seorang wanita pezina yang dia memberi minum kepada seekor anjing.

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ ، كَادَ يَقْتُلُهُ العَطَشُ ، إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Ketika ada seorang anjing dia berputar-putar di mulut sumur dan dia ingin minum dari sumur tersebut tapi dia tidak punya kemampuan untuk turun mengambil air.” Sampai disebutkan dalam riwayat dia menjulurkan lidahnya di pasir karena kehausan.

Maka dilihat oleh seorang wanita pezina dari Bani Israil. Maka dia pun melepaskan sepatunya, kemudian dia turun ke sumur, kemudian dia isi air di sepatunya, kemudian dia naik lagi di atas sumur, kemudian dia memberi minum kepada anjing tersebut. Maka apa kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

فَغُفِرَ لَهَا بِهِ

“Maka Allah ampuni dosanya gara-gara amalnya tersebut.” (HR. Imam Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad – As-Silsilah Ash-Shahihah :1/35)

Para ulama membahas bahwa bukan berarti setiap orang kalau memberi minum kepada seekor hewan lantas kemudian dia dapatkan pahala sebesar itu, tidak. Tapi dia mendapatkan ganjaran yang besar karena ada sesuatu dalam hatinya yang luar biasa, yaitu keikhlasannya, rahmatnya, amalan hati. Ini menunjukkan amalan hati punya pengaruh yang sangat besar dalam memberikan pahala kepada seseorang.

4. Tujuh golongan yang Allah naungi

Di antaranya juga dalam hal ini misalnya tentang tujuh golongan yang Allah naungi pada hari kiamat kelak tatkala matahari diberi jarak 1 mil di padang Mahsyar. Maka ada 7 orang spesial yang Allah naungi pada naungan Allah pada hari kiamat tersebut. Di antaranya Allah sebutkan orang-orang yang melakukan amalan hati yang luar biasa. Seperti apa?

رَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ

“Dua orang yang saling mencintai karena Allah.”

Mencintai karena Allah adalah amalan hati.

Kemudian di antaranya:

رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

“Seorang yang rindu ingin ke masjid.”

Di antaranya juga, seorang yang dirayu oleh wanita yang cantik jelita dan kaya raya kemudian dia tolak dengan berkata:

إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

“Aku takut kepada Allah.”

Takut kepada Allah adalah amalan hati.

Di antaranya juga seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya dan dia sembunyikan sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, yaitu saking ikhlasnya. Ini adalah amalan hati.

Kemudian di antaranya:

رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Seorang bersendirian kemudian dia ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia pun menangis.”

Ini juga karena apa? Yaitu karena amalan hati.

Jadi ternyata amalan hati ini punya pengaruh menjadikan pahala besar suatu amal. Bisa jadi seseorang beramal yang sama tapi pahalanya jauh berbeda. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala bahwa bisa jadi dua orang shalat berdampingan, mungkin di shaf yang sama, cara shalatnya sama, tetapi pahala di antara mereka berdua jauh antara langit dan bumi. Kenapa? Karena perbedaan amalan hati.

Oleh karenanya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita setiap hari menjalankan ibadah, menjalankan amal-amal shalih, maka perhatikan hati kita, tata hati kita, manage hati kita agar kita memiliki amalan hati yang kuat, sehingga pahala yang kita raih dari amalan-amalan dzahir menjadi sangat besar berdasarkan kuatnya amalan hati kita.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Mempelajari Amalan Hati - Part 1

By Yuni Koerniawati at December 11, 2020 0 comments
Kelas Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Ustadz Dr Firanda Andirja
Sumber Transkrip: www.ngaji.id
--------------------------------------------


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kenapa kita mempelajari tentang amalan-amalan hati yang dianjurkan agar kita bisa mengamalkannya dan juga penyakit-penyakit hati yang bahaya yang harus kita jauhi?

1. Kedudukan dan derajat seseorang tergantung bersihnya hatinya

Banyak hal yang menunjukkan akan urgensinya kita belajar akan hal ini. Di antaranya yang pertama bahwasannya kedudukan seseorang dan derajat seseorang tergantung akan bersihnya hatinya. Oleh karenanya di antara doa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ . يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ 

Ya Allah jangan Engkau hinakan aku pada hari dimana mereka dibangkitkan. Hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali orang yang bertemu dengan Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Su’ara[26]: 87-88)

Oleh karenanya Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam bertemu Allah dengan hati yang selamat. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:

وَإِنَّ مِن شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ . إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ 

Dan di antara golongannya Nabi Nuh ‘Alaihis Salam adalah Ibrahim. Tatkala dia datang bertemu dengan Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 83-84)

Dan ini juga ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Abdullah bin ‘Amr bin Ash:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟

“Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Ya Rasulullah, siapa orang yang paling afdhal?'”

Sahabat bertanya tentang orang yang paling afdhal. Mereka ingin tahu siapa orang yang paling afdhal agar mereka bisa menjadi orang tersebut. Kita tahu pertanyaan-pertanyaan sahabat kepada Nabi bukan hanya untuk wawasan, tapi untuk mereka amalkan. Dan ini banyak dalam pertanyaan-pertanyaan sahabat, amal yang terbaik, amal yang paling dicintai oleh Allah, sekarang ditanyakan manusia mana yang paling afdhal.

Maka Nabi menjawab. Perhatikan jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ

“Yaitu seorang yang disapu (dibersihkan) hatinya dan jujur lisannya.”

Lalu para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang yang lisannya jujur kami paham. Apa yang dimaksud dengan hati yang dibersihkan (yang disapu)?

Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan maksud مَخْمُومِ الْقَلْبِ adalah:

هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ

“Yaitu hati yang bertakwa yang bersih.”

لَا إِثْمَ فِيهِ

“Tidak ada dosa di dalamnya.”

وَلَا بَغْيَ

“Tidak ada melampaui batas.”

وَلَا غِلَّ

“Tidak ada kedongkolan.”

وَلَا حَسَدَ

“Tidak ada dengki.” (HR. Ibnu Majah)

Hati yang bersih. Inilah manusia yang paling afdhal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hati yang bertakwa. Tidak ada dosa, yaitu syahwat ingin melihat hal-hal yang haram, ingin memandang hal-hal yang haram. Kemudian tidak melampaui batas, sombong dan yang lainnya. Tidak ada kedongkolan dan tidak ada hasad. Ini orang adalah orang yang paling afdhal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu dalam hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَامِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melihat kepada rupa kalian dan Allah tidak melihat kepada jasad kalian…”

Artinya apa? Nabi menjelaskan bahwasanya bukan itu barometer Allah dalam menilai derajat seseorang.

وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Tapi yang Allah lihat adalah hati kalian dan amalan kalian.”

Ini yang menjadi berometer Allah dalam menilai derajat seseorang. Pertama adalah hatinya, baru kemudian amalnya. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian Allah yang pertama adalah hati seseorang. Karena kalau seorang dinilai dari rupanya, dari parasnya, maka orang-orang tampan adalah yang paling tinggi di sisi Allah, wanita-wanita yang paling cantik merekalah yang paling tinggi di sisi Allah. Tapi itu bukan jadi patokan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Betapa banyak orang-orang mulia yang ternyata -misalnya- mereka adalah budak. Seperti Bilal bin Rabah yang tadinya budak kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar, (Bilal) berkulit hitam.

Demikian juga dalam satu hadits, ketika Ibnu Abbas Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhuma pernah berkata kepada Atha’ bin Abi Rabah, kata Ibnu ‘Abbas:

أَلَا أُرِيَكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Wahai Atha’ bin Abi Rabah, maukah aku tunjukkan kepada engkau seorang wanita penghuni surga?”

Subhanallah..

Atha berkata: “Tentu Ya Ibnu Abbas, siapa wanita penghuni surga itu?”

Artinya bahwa Ibnu Abbas menyampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan bahwa ini perempuan penghuni surga. Kemudian kata Ibnu Abbas:

هذِهِ المْرأَةُ السوْداءُ

“Inilah wanita berkulit hitam yang Rasulullah mengatakan dia adalah penghuni surga.”

Kok bisa wanita berkulit hitam ini menjadi penghuni surga?

أَتَتِ النَّبِىَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَتْ: إِنِّى أُصْرَعُ وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى

“Dia datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas dia berkata: ‘Ya Rasulullah aku terkena penyakit shara’ (semacam penyakit ayan atau aku kemasukan jin) dan ketika aku lagi kumat, terkadang sebagian auratku tersingkap (entah pahanya, entah betisnya, entah apanya). Berdo’alah kepada Allah untukku Ya Rasulullah agar aku sembuh.”

Maka kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ

“Kalau kau mau kau bersabar dan bagimu surga.”

وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

“Tapi kalau kau mau aku berdoa kepada Allah kau akan sembuh dari penyakit ini.”

Apa kata wanita berkulit hitam ini?

أَصْبِرُ

“Aku memilih bersabar.”

Kemudian dia melanjutkan:

إِنِّى أَتَكَشَّفُ

“Tetapi Ya Rasulullah, aku tersingkap ketika aku sedang kumat.” Yaitu dia malu kalau terlihat sebagian. Subhanallah bagaimana rasa malu wanita yang berkulit hitam ini. Padahal kalau dia tersingkap mungkin tidak ada yang melihat dan tertarik. Tapi dia punya rasa malu yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dia berkata:

فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ

“Maka berdoalah kepada Allah untukku agar ketika aku kambuh tidak tersingkap.”

فَدَعَا لَهَا

“Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakannya.”

Ini dalil bahwasanya wanita ini penghuni surga. Lihat, dia berkulit hitam, terkena penyakit, tetapi apa yang membuat dia masuk surga dan mulia di sisi Allah? Dia punya amalan hati, yaitu sabar.

Oleh karenanya ini peringatan kepada ikhwan-ikhwan dan akhwat yang terlalu perhatian terhadap penampilan dzahirnya. Hal itu bagus, tidak ada masalah. Tapi lupa dengan memperhatikan hatinya. Kita memperhatikan amalan dzahir, penampilan, casing kita perhatikan, tapi yang lebih utama adalah kita perhatikan isi hati kita. Ini yang paling penting, karena itu yang menjadi barometer penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Muqaddimah - 2

By Yuni Koerniawati at December 11, 2020 0 comments
Kelas Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Ustadz Dr Firanda Andirja
Sumber Transkrip: www.ngaji.id
--------------------------------------------

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

5. Meluruskan niat dalam menuntut ilmu

Perkara kedua yang saya ingatkan kepada ikhwan akhwat, para “thullaabul ‘ilmi” (طلاب العلم) yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu meluruskan niat dalam ilmu. Ini perkara penting, karena niat berpengaruh besar dalam gerak langkah kita. Kalau niat kita benar insyaAllah dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kalau niat kita salah, maka akan sulit bagi kita menempuh jalan menuntut ilmu. Kalaupun kita berhasil menuntut ilmu tapi kalau niatnya salah maka tidak berkah.

Oleh karenanya Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan siapa yang menuntut ilmu ternyata ilmunya tidak menambah ketakwaannya, ilmunya tidak membuat dia semakin semangat beramal shalih فمدخول, berarti niatnya terkontaminasi, ada masalah dengan niatnya.

Oleh karenanya perlu kita perbaiki niat kita ketika menuntut ilmu. Yang pertama adalah kita ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita menuntut ilmu bukan untuk bangga-banggaan, bangga-banggaan masuk dalam grup WA ini, ini bukan untuk dibangga-banggakan, tapi kita sama-sama bekerjasama. Baik saya sebagai pemateri maupun Antum dan Antunna sebagai pendengar agar kita sama-sama bisa masuk surga, bukan untuk dibangga-banggakan, bahwasanya jumlah grupnya banyak atau yang lainnya, bukan itu.

Niat kita, kita perbaiki, kita menuntut ilmu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk meraih pujian atau sanjungan atau pengakuan dari yang lainnya.

6. Menuntut ilmu untuk diamalkan

Yang kedua, di antara yang perlu kita perhatikan tentang masalah niat yaitu kita niatkan menuntut ilmu untuk diamalkan. Ini sangat penting, karena sebagian orang menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasan, pengetahuan, ingin tahu, apalagi dalam rangka untuk bisa berdiskusi dan berdebat, agar orang mengakui dia punya ilmu dan yang lainnya, ini niat-niat yang salah. Menuntut ilmu adalah untuk diamalkan.

Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwasanya ilmu itu baru dikatakan berfaedah jika membuahkan hasil. Hasilnya adalah amalan. Maka dikatakan buat apa ada pohon tanpa buah? Pohon itu ditunggu buahnya. Maka sama dengan ilmu, ilmu itu yang dibutuhkan adalah pengamalannya. Pengamalan bisa dalam dua hal; pengamalan hati (yaitu aqidah yang benar) dan pengamalan amal jawari anggota tubuh (dengan ibadah). Maka ilmu harus ada buktinya. Karenanya kita telah belajar, maka kita niatkan untuk menuntut ilmu.

Dahulu para salafush shalih, para sahabat, mereka mempelajari surat Al-Baqarah dengan perlahan. Hal ini karena disertai dengan pengamalan dari isi surat Al-Baqarah tersebut. Oleh karenanya kalau ada seorang sudah selesai surat Al-Baqarah, berarti dia sudah banyak amalnya.

Saya berharap kepada diri saya pribadi dan juga kepada para ikhwan dan akhwat, kita bukan hanya sebagai orang yang cerdas dalam menangkap ilmu, tapi kita berusaha menjadi orang cerdas dalam menerapkan ilmu. Sebagaimana perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al-Qur’an itu akan membelamu pada hari kiamat kelak atau malah menyerangmu.”

Yaitu Al-Qur’an jika kita amalkan akan memberi syafaat dan membela kita. Tapi kalau tidak kita amalkan, hanya sebagai wawasan, bahkan kita bertentangan dengan ilmu yang kita miliki, maka akan menjadi bumerang yang menyerang kita pada hari kiamat kelak.

7. Menuntut ilmu untuk mengangkat kejahilan

Di antara niat juga yang harus diperhatikan adalah kita menuntut ilmu untuk mengangkat kejahilan dari diri kita dan untuk mengangkat kejahilan dari orang lainnya. Sebagaimana Al-Imam Ahmad pernah berkata:

العلم لا يعدله شيء إذا خلصت النية

“Ilmu itu tidak bisa dibandingkan dengan apapun (artinya dia adalah ibadah yang sangat agung) jika niatnya ikhlas.”

Maka ditanya: “Wahai Imam Ahmad, bagaimana mengikhlaskan niat? Imam Ahmad berkata:

ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

“Seorang menuntut ilmu dengan niat untuk mengangkat kejahilan dari dirinya.”

Karena kita penuh dengan kejahilan, dan kita asalnya dilahirkan dengan kejahilan. Maka kejahilan kita ini kita angkat sedikit demi sedikit. Dan juga meniatkan untuk mengangkat kejahilan dari orang lain. Ini tentunya sangat penting bagi para Da’i, mereka menuntut ilmu dalam rangka berniat mengangkat kejahilan dari masyarakat.

Tapi seperti Antum dan Antunna, paling tidak berniat: “Kalau saya punya ilmu, saya akan juga mengajarkan kepada orang terdekat saya, kepada istri atau kepada suami, kepada anak-anak.” Paling tidak yang paling utama adalah mengangkat kejahilan dari diri kita dan mengangkat kejahilan dari orang-orang terdekat kita.

Jadi bukan untuk menjadikan diri kita tinggi, menjadikan diri kita pusat perhatian. Sebagaimana Nabi mengingatkan bahwasanya orang menuntut ilmu:

ليس به وجوه الناس

Agar orang-orang memperhatikan dia, orang-orang melirik dia, supaya jadi pusat perhatian, orang-orang mengakui dia. Itu adalah niat-niat yang buruk. Tapi kita menuntut ilmu agar kejahilan kita, kebodohan kita berkurang sedikit demi sedikit. Dan juga kalau bisa kita memberi manfaat kepada orang-orang sekitar kita.

Jadi semoga, ikhwan dan akhwat, terus semangat menuntut ilmu. Lihatlah bagaimana Nabi Musa ‘Alaihis Salam yang ingin menuntut ilmu, dia rela berjalan meskipun puluhan kilo, bahkan bertahun-tahun, yang penting dia bisa bertemu dengan Nabi Khadir untuk menuntut ilmu darinya.

Demikian, inilah dua poin yang saya sampaikan yang pada kesempatan kali ini sebelum kita masuk kepada materi tentang silsilah amalan hati.

Semoga ikhwan dan akhwat selalu diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Muqaddimah - 1

By Yuni Koerniawati at December 11, 2020 0 comments
Kelas Silsilah Amalan Dan Penyakit Hati
Ustadz Dr Firanda Andirja
Sumber Transkrip: www.ngaji.id
--------------------------------------------

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kepada para ikhwan dan akhwat yang tergabung dalam grup WhatsApp dakwah ini, saya ucapkan:

مرحبا بكم مرحبا بطالب العلم

Selamat datang para penuntut ilmu sekalian. Ahlan wa sahlan..

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya kita terus berlanjut dalam group wa yang semoga diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

1. Ilmu adalah ibadah

Yang pertama, kepada ikhwan dan akhwat untuk memperhatikan bahwasannya ilmu adalah ibadah. Jadi ketika masuk ke dalam grup ini, niatkan memang menuntut ilmu (untuk) ibadah. Sebagaimana kalau kita membaca Al-Qur’an kita merasa sedang beribadah kepada Allah, kalau kita sedang shalat kita merasa sedang beribadah kepada Allah, kalau kita sedang puasa kita merasa sedang beribadah kepada Allah, maka tatkala kita menurut ilmu, hendaknya kita merasa sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena terlalu banyak dalil yang menunjukkan ilmu adalah ibadah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antaranya seperti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah buat dia faqih tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436)

Oleh karenanya, kalau orang cinta dengan ilmu, tanda bahwasanya Allah mencintainya, Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah membuat dia cinta kepada ilmu, Allah membuat dia sabar dalam menuntut ilmu, Allah membuat dia betah dalam majelis ilmu. Ini tanda bahwasanya Allah menghendaki kebaikan baginya.

Di antaranya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang menempuh satu perjalanan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim no. 7028)

Ini dalil bahwasannya ilmu adalah jalan termudah untuk meraih surga. Banyak jalan menuju surga, tapi jalan yang tercepat -kata sebagian ulama- untuk meraih surga adalah menuntut ilmu. Kenapa bisa demikian? Karena dengan ilmu akan terbuka wacana-wacana tentang amal shalih, tentang hal-hal yang diharapkan untuk dijauhi, dan ilmu sendiri itu adalah merupakan ibadah yang mengantarkan kepada surga.

2. Ilmu adalah jihad

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menganggap ilmu adalah jihad. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا 

Janganlah kau taat kepada orang-orang kafir (wahai Muhammad) dan berjihadlah melawan mereka dengan Al-Qur’an dengan jihad yang besar.” (QS. Al-Furqan[25]: 52)

Ayat ini turun ketika masih fase Mekah dimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam belum diwajibkan berjihad dengan pedang. Tapi Allah menyuruh Nabi berjihad dengan Al-Qur’an, yaitu dengan ilmu. Sama ketika Allah menyuruh berjihad melawan orang-orang munafik, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ…

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan melawan orang-orang munafik.” (QS. At-Taubah[9]: 73)

Kita tahu namanya orang munafik tidak boleh dibunuh karena KTP-nya Islam. Terus bagaimana berjihad melawan orang-orang munafik? Yaitu dengan ilmu, membantah syubhat-syubhat mereka, membantah pemikiran-pemikiran mereka. Jadi Allah menyatakan bahwasanya ilmu adalah salah satu bentuk jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan kita lihat di zaman sekarang bagaimana Islam tersebar bukan dengan pedang, tapi Islam tersebar dengan ilmu. Banyak Da’i, banyak kaum muslimin di negara-negara kafir sana yang terus menyampaikan Islam dengan ilmu, membantah syubhat-syubhat. Sehingga penyebaran Islam tidak bisa dibendung, semakin tersebar di mana-mana. Di negara-negara non muslim setiap hari orang masuk Islam. Ini adalah salah satu bukti bahwasanya ilmu adalah jihad. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan jihad dengan ilmu, dalam firmanNya:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ 

Tidak pantas bagi orang-orang yang beriman untuk seluruhnya pergi berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, harus ada sekelompok orang yang menuntut ilmu agar memberi peringatan kepada kaumnya jika kembali kepada mereka, supaya mereka waspada.” (QS. At-Taubah[9]: 122)

Di sini Allah menyatakan: “Tidak pantas semua orang-orang beriman untuk berjihad, harus ada sebagian yang menuntut ilmu,” maka perlu jihad dengan pedang dan perlu jihad dengan lisan. Allah menggandengkan jihad dengan pedang dan menuntut ilmu, ini menunjukkan tentang agungnya menuntut ilmu.

3. Menuntut ilmu adalah dzikrullah

Di antara dalil bahwasanya ilmu adalah ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan ilmu dengan dzikir. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

Bertanyalah kepada ahlu dzikr (orang-orang yang suka berdzikir)...” (QS. An-Nahl[16]: 43)

Maksudnya di sini bukan orang tukang berdzikir, tapi maksudnya adalah orang berilmu. Allah menamakan orang berilmu dengan dzikir. Karena tempat bertanya kita kepada para ulama. Allah menamakan para ulama dengna ahlu dzikr, kenapa demikian? Karena menuntut ilmu itu sendiri kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun yang kita pelajari, (belajar) tauhid kita sedang mengingat Allah, ilmu fikih kita sedang mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, (belajar) tentang adab kita ingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun yang kita pelajari dari agama Allah kita sedang mengingat Allah.

Maka menuntut ilmu adalah dzikrullah. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang shalat jum’at, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ…

Wahai orang-orang yang beriman, jika telah dikumandangkan adzan jum’at, maka bersegeralah kalian menuju dzikrullah…” (QS. Al-Jumu’ah[62]: 9)

Apa yang dimaksud dengan dzikrullah? Para ulama rata-rata mengatakan maksudnya adalah khutbah jum’at. Khutbah jum’at dikatakan oleh Allah dzikrullah. Bukan shalatnya dalam ayat ini, tapi Allah sedang berbicara tentang khutbah jum’at. Kenapa khutbah jum’at? Yaitu karena isinya ilmu. Mendengarkan ilmu berarti sedang dzikrullah. Ini menunjukkan bahwasanya ilmu adalah ibadah.

4. Allah mengangkat orang yang berilmu

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat orang yang berilmu tinggi derajatnya. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…

Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu di antara kalian beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 11)

Jadi orang beriman diangkat derajatnya, orang berilmu diangkat beberapa derajat diatas orang yang beriman. Dan tidak mungkin seorang diangkat derajatnya kecuali dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan terlalu banyak dalil yang menunjukkan bahwasanya ilmu itu agung. Makanya Nabi tidak pernah disuruh oleh Allah untuk minta tambahan kecuali tambahan ilmu. Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا 

Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Yaa Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Tha-ha[20]: 114)

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Alhamdulillah saya bahagia Antum semangat untuk masuk dalam group WA, semoga semangat ini terus dipertahankan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan hati kita untuk terus menuntut ilmu. Karena ini kita sedang beribdah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan ibadah yang agung, ibadah yang memudahkan kita untuk meraih surga.

Jadi, kita ketika menuntut ilmu, kita hadirkan dalam diri kita: “Saya sedang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahu a’lam bishshawwab..

03 December 2020

Semangat Menghafal #007

By Yuni Koerniawati at December 03, 2020 0 comments

 "Dalam menghafal, yang dinilai itu bukan seberapa cepet kamu menghafal, tpi seberapa banyak kamu mengulang. Jadi jangan cepet-cepet. Cobalah Diulang-ulang terus."

Semangat Murojaah dan Hafalan

Semangat Menghafal #006

By Yuni Koerniawati at December 03, 2020 0 comments
Jika suatu saat di tengah agenda-agenda dakwah yang sangat padat kamu merasakan kesedihan karena tidak menemukan waktu yang luang untuk mengulang ataupun menambah hafalan, maka berbahagialah, karena saat itulah kamu resmi sebagai “Aktivis Dakwah”. 

Semangat Menghafal

Semangat Menghafal #005

By Yuni Koerniawati at December 03, 2020 0 comments

بِسْـــــــــــــــمِﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم 

 Rasulullah bersabda:

 نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ 

Nabi sholallahu alayhi was salam bersabda (Yang arti nya) "Barangsiapa yang membaca surat alkahfi pada hari jumat,dia akan disinari cahaya diantara 2 jumat." (HR.An-nasa'i dan baihaqi )

 

Never Stop Learning Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by New Baby Shop