21 April 2011

Belajar Jiwa Menolong dari Bang Bejo

By Yuni "Dee" at April 21, 2011
Assalamu’alaikum wr.wb

Shahabat yang baik, semoga keselamatan, kebahagiaan, cinta dan kasih sayang selalu bersama Anda. Mudah-mudahan cinta yang ada pada kita, terus-menerus dapat kita tingkatkan kualitasnya. Cinta dan kasih sayang kepada Allah berupa perhatian dan kepeduliaan yang kita berikan sesama manusia.

Menghadiri Walimahan
Barusan saya bersama istri menghadiri undangan pernikahan Mas Eko, tetangga sebelah rumah. Di Betawi sudah menjadi lumrah, pesta pernikahan dimulai dari pagi hari sampai jam 22.00 malam. Seperti 4 Desember 2010 yang lalu saya mengalaminya. Dengan menunaikan kewajiban undangan menghadiri walimahan, selain
datang dengan rasa gembira sebagai doa bagi penganten, juga bisa menjadi tempat untuk silaturahim kesesama.


Apalagi saya sebagai warga baru di kampung setu ini. Menghadiri acara pernikahan atau hajatan, sarana yang tepat untuk menyambung silaturahim dengan warga. Alhamdulillah, keluarga istri bukan pendatang, melain keturunan asli. Almarhum Ayah mertua dari Betawi, dan Ibu Mertua dari Jawa. Jadi, bisa tanya satu persatu
warga yang sering saya temui di mushola. Istripun menyebut satu persatu. Sampai dengan satu orang pemuda.

Tinggi badannya mungkin 168 cm. Badannya tidak kurus dan juga tidak gemuk. Diselimuti dengan tubuh kehitaman manis pada dirinya. Menggunakan pakaian kaos oblong warna hitam. Celana bahan dan sandal jepit. Baju dia masukkan kedalam, dan dibelakang pinggul kanan, agak keluar bajunya sedikit. Mungkin karena tidak disadarinya, serta tanpa menggunakan tali pinggang.

Namanya bang Bejo. Saya belum tau persis dari mana asal muasalnya (asli kelahiran). Sering saya lihat saat shalat jumaat, membantu pengurus mesjid di parkiran mobil dan motor. Selain itu, saya pernah menjumpai bang Bejo, saat almarhum baba Aji masih hidup.

Kebiasaan Menolong Bang Bejo
Bang Bejo memberi saya pembelajaran hidup, sehingga saya menuliskan sedikit informasi tentang beliau. Adapun yang membuat saya terkesan, saat istri saya memberitahu tentang aktivitas dan kebiasaan beliau. ”Orangnya memang pendiam kak, tetapi saat ada warga yang sedang mengalami musibah atau membutuhkan bantuan, pasti dia duluan yang akan datang dan membantu dengan kemampuan tenagannya”.

Ada sesuatu yang tersentak dalam diri saya saat mendengar pemberitahuan itu. Istri saya kemudian melanjutkan ”Saat almarhum bapak meninggal, sebelum semua orang datang ke rumah. Bang Bejo pertama kali sampai untuk bantu mengangkat kursi, meja serta rapihin rumah”.

Dan dipernikahan Mas Eko pun, saya melihat sendiri, Bang Bejo bantu-bantu mengangkat, memindahkan dan mengumpulkan piring kotor. Kebiasaan dan budaya di sini, biasanya yang melakukan itu adalah ahli keluarga atau familiy pengatin yang hajatan.

Prinsip Menolong Bang Bejo
Orangnya memang pendiam. Karena penasaran saya mencari tau lagi tentang beliau. Rumahnya dimana? Ternyata rumah Bang Bejo ada di sebrang Mesjid ElSyifa. Walau rumah kontrakan bersama ibu beliau di sana. Tapi biasanya Bang Bejo tidur di pos ronda atau siapa saja yang mau mengizinkan untuk merebahkan badannya. Terkadang juga di mesjid atau mushala. Dan aktivitasnya sehari-haripun saya tidak tau persis, apa yang beliau usahakan. Informasi tambahan dari istri ”Bang Bejo kalau membantu tidak mau di bayar, tetapi cukup dikasih makan saja, baginya sudah sangat dan lebih dari cukup”.

Namun terlepas dari siapa dan apa aktivitasnya. Setelah pulang dari kondangan, hati saya seperti tertusuk. Dipenuhi perasaan malu. Karena, perbandingan antara sikap, perilaku dan spontanitas saya dengan bang Bejo. Saya sudah pernah duduk dikursi pendidikan tertinggi. Sudah mengikuti pembelajaran dan pelatihan tentang memahami dan mengenali manusia. Tetapi, masih belum spontan untuk membantu
sesama. Masih ada rasa ego, masih menerka-nerka dan menghitung-hitung. Mungkin ini kata-kata bijak ”Terkadang lebih baik tidak tau apa-apa tidak menjadi siapa, sehingga tidak ada beban dalam bertindak”.

Kondangan malam ini, selain terjadiTrance Derivational Seacrh. Proses terpanggilnya memori pengalaman saat terindah, pernikahan dengan istri Desember yang lalu. Saya juga mendapat pembelajaran hidup. Yang belum tentu saya dapatkan di kampus yang memberikan saya ijazah. Tetapi, saya dapatkan pada kampus
kehidupan.

Terima kasih bang Bejo. You are my teacher in Life University...

Cinganjur 12 februari 2011

Sumber : www.kursusnlp.com

0 comments:

Post a Comment

Kalau ada pertanyaan, usul/saran, atau komentar yang terkait dengan postingan-postingan saya, silakan tinggalkan pesan Anda disini.

 

Never Stop Learning Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by New Baby Shop